|
“Teknik Pembangunan Persemaian, Penyiapan Bibit, dan teknik Rehabilitasi di Lahan Gambut” Selain pemilihan lokasi yang tepat dan jenis tanaman yang sesuai, kualitas bibit merupakan salah satu faktor penting yang sangat menentukan keberhasilan suatu kegiatan rehabilitasi. Sayangnya hal ini jarang sekali diperhatikan oleh pelaksana kegiatan yang seringkali menggunakan pendekatan proyek. Dalam pendekatan ini, yang lebih diutamakan adalah realisasi fisik, bukan pada kualitas dari pada kegiatan. Sehingga tolok ukur keberhasilan yang diutamakan adalah jumlah bibit yang ditanam, bukan berapa jumlah bibit yan hidup. Alhasil, sebagian besar kegiatan rehabilitasi seringkali berujung pada suatu kegagalan. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi seringkali hanya terbatas sebagai tenaga buruh dalam beberapa rangkaian kegiatan-kegiatan rehabilitasi misalnya penyiapan lahan dan penanaman. Jarang sekali mereka dilibatkan pada tahap-tahap lainnya. Padahal, masyarakat dinilai cukup potensial untuk terlibat lebih jauh dalam kegiatiatan-kegiatan yang lain misalnya penyiapan bibit, penyiapan areal penanaman hingga pemeliharaan. Namun perlu juga disadari bahwa kapasitas/kemampuan masyarakat di beberapa kegiatan dalam rehabiitasi masih terbatas. Hanya sedikit diantara masyarakat yang memiliki pengalaman dalam mananam atau membibitkan jenis tanaman kehutanan. Atas dasar hal inilah proyek WPRP berinisiatif untuk melaksanakan pelatihan tentang teknik penyiapan bibit, pembangunan persemaian dan rehabilitasi. Pelatihan ini telah dilakukan di wilayah kerja proyek WPRP yaitu di Desa Muara Merang Kecamatan Bayung Lincir Kabupaten MUBA Propinsi Sumatera Selatan pada tanggal 3 - 4 July 2007. Kegiatan ini melibatkan perwakilan kelompok-kelompok yang tergabung dalam kelompok calon penerima small grant - proyek WPRP di Desa Muara Merang. Dan sebagai pemandu dalam penyampaian materi kegiatan adalah Iwan Tricahyo Wibisono seorang Training Specialist WIIP dan dibantu oleh staff WBH. Adapun kegiatan ini bertujuan untuk 1). Memberikan informasi serta arahan kepada masyarakat lokal tentang pembangunan persemaian dan kegiatan penyiapan bibit. 2). Memberikan informasi dan arahan tentang tata cara kegiatan rehabilitasi kepada masyarakat. 3). Menyiapkan masyarakat untuk mampu menyelenggarakan kegiatan rehabilitasi secara baik dan benar.
  Materi yang disampaikan dalam kegiatan ini cukup padat dan lengkap, sehingga dibagi dalam lima bagian yaitu : - Bagian Pertama tentang Teknik Pembangunan Persemaian meliputi beberapa pokok bahasan utama yaitu: cara memiih lokasi persemaian, jenis sarana dan prasarana yang dibutuhkan persemaian, bahan dan alat persemaian, cara membuat bedeng tabur, cara membuat bedeng sapih, dll.
- Bagian kedua tentang teknik Pembibitan meliputi; cara pengadaan benih, cara merangsang perkecambahan benih, penyemaian, penyapihan, pemeliharaan bibit dan pengerasan (hardening off).
- Bagian ketiga mengenai Persiapan sebelum penanaman meliputi; penentuan lokasi penanaman, penentuan jarak tanam, penentuan titik tanam, pengajiran, dan transportasi bibit. Selain itu, dijelaskan juga tentang beberapa alternatif teknik silvikultur yang sebaiknya diterapkan, seusai dengan kondisi lokasi penanaman yang bervariasi di lapangan.
- Bagian keempat tentang Penanaman meliputi; penentuan waktu penanaman, teknik menanam bibit, dan hal-hal penting lainnya yang terkait dengan kegiatan penanaman.
- Bagian kelima mengenai Pemeliharaan meliputi; penyulaman, pembersihan piringan, pembersihan jalur tanam dan pencegahan kebakaran .
Selain mendapat pelatihan berupa materi, peserta juga di ajak kunjungan ke lapangan ke suatu areal eks-kebun pangkas meranti Shorea spp. Beberapa tahun yang lalu, areal ini merupakan suatu unit persemaian yang dioperasikan oleh Perusahaan, PT. Bumi Raya Utama (BRUI). PT. BRUI merupakan pemegang konsesi hutan yang beroperasi sejak tahun 1970-an dan berakhir masa konsesinya pada tahun 1999. Menyusul tidak diperpanjangnya ijin konsesinya, maka persemaian ini ditingalkan dan praktis menjadi tidak terpelihara. Saat dilakukan kunjungan, sekilas persemaian ini tidak lebih menyerupai hutan sekunder dibandingkan suatu unit persemaian. Semak dan belukar (terutama Mahang atau Macaranga pruinosa) tumbuh hampir di seluruh bagian persemaian. Sementara itu, beberapa jenis tanaman pemanjat (climber plant) seperti paku hurang Stenochlaena palustris, Lygodium scadens, Poikiloseprmum suavolens, dan beberapa species Uncaria sangat mudah dijumpai di mana-mana. Beberapa temuan dan analisis hasil kunjungan ke lapangan antara lain : Kondisi Lahan - Selama hampir 8 tahun terbengkalai, persemaian ini sudah sulit sekali untuk dikenali. Sekilas, arel ini lebih mirip dengan semak belukar atau hutan sekunder dibandingkan unit persemaian. Beberapa jenis vegetasi pionir seperti Mahang Macaranga spp dan Endosperma spp tumbuh hampir diseluruh penjuru lokasi.
- Tutupan vegetasi (land cover) dari persemaian ini diperkirakan 95%, sementara tutupan pohonnya (tree cover) diperkirakan 60%.
- Topografi areal ini termasuk datar, namun terdapat beberapa titik yang lebih rendah terutama di sekitar tepi sungai. Bila pasang sungai terjadi, areal ini tergenangi oleh air sungai. Sementara di bagian lain yaitu sekitar 20-30 dari tepi, daratannya relatif lebih tinggi sehingga air pasang sungai tidak mencapainya.
- Pohon-pohon induk yang ditanam pada kebun pangkas adalah meranti Shorea spp. Tinggi rata-rata pohon induk adalah 8 m dengan diameter antara 8-10 cm.
- Status areal
- Tidak adanya pengelola yang bertanggung jawab atas lokasi ini menyebabkan status areal ini menjadi tidak jelas. Hal ini sangat berdampak buruk terhadap areal ini. Semua orang memiliki persepsi bahwa areal ini adalah areal tak bertuan, dimana semua pihak merasa boleh memanfatkannya. Informasi terakhir lokasi kawasan tersebut merupakan hak pengelolaan oleh desa dalam hal ini kepala desa .
- Degradasi
- Saat kunjungan dilakukan, telah terjadi penebangan terhadap pohon induk di kebun pangkas. Berdasarkan pengamatan kasar, 70% dari total pohon induk yang ada telah ditebang oleh orang tak dikenal. Kunjungan yang dilakukan masyarakat beberapa minggu sebelumnya masih mendapati areal ini masih belum terganggu.
- Secara langsung maupun tidak, penebangan ini terjadi sebagai salah satu dampak ketidak jelasan status dan peruntukan kawasan ini. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkrit untuk dapat mengukuhkan sekaligus melindungi kebun pangkas ini.
- Kondisi pohon induk setelah degradasi
- Hampir seluruh pohon yang dipotong masih bertahan hidup yang ditandai dengan keluarnya trubusan (resrpouting). Trubusan ini dapat dimanfaatkan untuk bahan stek pucuk. Namun demikian, stek pucuk sebaiknya di pilih untuk yang menghadap ke atas (orthotrof).
- Persepsi dan harapan masyarakat mengenai kebun pangkas
- Sebagian besar peserta training pada khususnya memiliki harapan yang cukup besar untuk dapat memanfaatkan kembali kebun pangkas ini. Hal ini mengingat akses masyarakat dalam mendapatkan benih dari dalam hutan sangat rendah karena terkendala oleh jauhnya jarak antara desa dan hutan. Pencarian benih (seed) dan anakan alam (wildling) di hutan sebenarnya masih memungkinkan namun membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang cukup besar.
- Pengoptimalan fungsi kebun pangkas ini diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi masyarakat untuk dapat menyelenggarakan kegiatan pembibitan meranti Shorea spp secara efektif, efisien dan ekonomis.
Identifikasi kendala - Masyarakat tidak memiliki pegalaman sama sekali dalam mengelola kebun pangkas dan melakukan pembibitan meranti melalui penyetekan. Kondisi ini sudah barang tentu menjadi pembatas/kendala dalam melakukan penyetekan.
- Lokasi kebun pangkas hanya dapat dijangkau dengna menggunakan alat transpoertasi air. Hal ini juga menjadi kendala mengingat tidak semua masyarakat memiliki perahu atau speed boat.
- Terdapat potensi terjadi penggenangan pada sebagian areal, terutama di lokasi yang posisinya dekat dengan sungai. Hal ini perlu mendapatkan perhatian, khususnya sebagai pertimbangan dalam penetapan posisi bedeng sapih dan bedeng perakaran.
Pertimbangan khusus: - Di dalam melakukan kegiatan peenyetekan pucuk, sangat diperlukan ketelitian, keahlian dan kehati-hatian. Seseorang yang belum pernah memiliki pengalaman akan sangat sulit untuk berhasil melakukan stek pucuk.
- Stek pucuk memerlukan sarana, alat dan bahan yang khusus antara lain bedeng perakaran, bedeng sapih, sungkup plastik, hormon perakaran (Rotoone F), sprayer, dan gunting stek.
Potensi - Berdasarkan petunjuk teknis dan literatur yang ada, kebun pangkas akan menghasilkan produksi pucuk dengan optimal hingga berumur 6 tahun. Bila lebih dari 6 tahun, dikuatirkan kualitas stek pucuk berkurang sehingga dapat mengurangi keberhasilan tumbuh. Semakin tua maka akan semakin berkurang kemampuan untuk menghasilkan trubusan. Namun demikian, para praktisi di beberapa daerah masih memanfaatkan kebun pangkas hingga berumur 10 tahun. Dan dilaporkan bahwa tingkat keberhasilan pembibitan melalui stek pucuk masih cukup mengembirakan. Berangkat dengan hal ini, kemungkinan pengoptimalan kebun pangkas ini felatif masih menjanjikan.
- Antusiasme masyarakat untuk memanfaatkan kebun angkas ini cukup tinggi. Hal ini merupakan modal dasar dan awal yang cukup bagus untuk dapat merealisasikan pembibitan. Tidak adanya pengalaman dan rendahnya kapasitas masyarakat masih dapat diatasi dengan pemberian pelatihan dan pendampingan hingga mereka mampu melakukan kegiatan ini.
Dari temuan dan analisis hasil kunjungan diatas, terdapa beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang perlu ditindaklanjuti dalam rangka mengaktifkan kembali kebun pangkas dan merealisasikan pembibitan meranti melalui teknik stek pucuk: - Penetapan areal sebagai areal pembibitan sebaiknya segera dilakukan.
- Kelompok masyarakat dengan didukung oleh aparat desa diharapkan dapat merumuskan bentuk pengelolaan yang tepat atas kawasan ini. Bilamana perlu, penataan batas dan pemberian papan plang dapat dilakukan dengan maksud untuk menghindari tindakan pengrusakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Penataan batas dapat dilakukan secara sederhana dengan memasang patok batas di beberepa titik terluar.
- Melakukan pembersihan lingkungan persemaian dari semak, herba, climber dan belukar (gulma). Selain untuk mempermudah operasional di lapangan, pembersihan ini juga dimaksudkan untuk mengurangi persaingan hara dan sinar matahari. Terbebasnya pohon induk dari gulma diharapkan akan meningkatkan laju pertumbuhan serta jumlah pucuk yang dihasilkannya. Pembersihan lingkungan persemaian ini dilakukan dengan cara membabat seluruh semak, herba, climber dan belukar di sekitar kebun pangkas dan lokasi lain yang akan diperuntukkan untuk bedeng perakaran dan bedeng sapih.
- Pembangunan bedeng sapih dan bedeng pengakaran
- Agar kegiatan pembibitan dapat berlangsung, maka perlu dibangun bedeng pengakaran dan bedeng sapih. Bedeng pengakaran digunakan untuk menumbuhkan akar dari stek pucuk, sedangkan bedeng sapih digunakan untuk menampung bedeng sapihan. Di dalam bedeng sapih inilah bibit akan dipelihara dan “dikeraskan” hingga mencapai ukuran ideal dan kondisi yang prima untuk ditanam di lapangan.
- Pengadaan alat, sarana, bahan dan material persemaian
- Kegiatan pembibitan akan dapat terlaksana dengan baik apabila alat, sarana dan bahan pendukung persemaian tersedia. Alat dan bahan-bahan tersebut antara lain: gunting stek, rotoone F, polibag, parang, dll.
- Pemangkasan pohon induk
- Setelah pembersihan dilakukan, pemangkasan pohon induk sebaiknya dilakukan dengan cara memotong pohon induk yang tersisa setinggi 1,5 – 1,7 m. Pemangkasan ini dilakukan untuk merangsang keluarnya trubusan yang kelak akan dimanfaatkan untuk stek pucuk. Pemangkasan ini tidak hanya berlaku untuk pohon yang belum ditebang, namun juga bagi pohon induk yang telah dipotong oleh orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan keseragaman tinggi pohon induk sehingga akan meudahkan operasionalpemangkasan pucuk.
- Pelatihan tentang teknik stek pucuk
- Pelatihan tentang teknik stek dan manajemen kebun pangkas sangat direkomendasikan untuk memberikan informasi yang lebih detail kepada masyarakat tentang kebun pangkas dan teknik stek pucuk. Lebih lanjut lagi, pelatihan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mereka sehingga dapat memahami prinsip-prinsip dasar pembibitan sekaligus mampu mempraktekkannya di lapangan.
Kesimpulan dan rekomendasi tersebut tentu saja harus di dukung dengan proses pendampingan dan penguatan kelompok yang akan mengelola pusat pembibitan tersebut. Salah satu kelompok yang sudah terbentuk adalah Kelompok Pembibitan. Kelompok ini sangat berpotensi untuk dikembangkan didukung oleh kegiatan pendampingan di lapangan yang intensif. Dan selain itu juga dibutuhkan dukungan dari semua pihak terkait (stake holder) seperti Pemerintahan dari tingkat Desa hingga Provinsi. Melalui pelatihan ini juga, masyarakat diharapkan akan lebih meningkat kapasitasnya sehingga mampu untuk menyelenggarakan kegiatan rehabilitasi dari awal hingga akhir dengan baik dan benar. Dengan demikian, keberhasilan kegiatan rehabilitasi diharapkan akan dapat tercapai. |