|
|
|
Makna keberhasilan berkelompok |
|
Thursday, 12 February 2009 |
|
Proses pendampingan masyarakat dalam kegiatan usaha ekonomi rakyat Pemilihan alternatif ekonomi yg tepat dan dukungan langsung dari pihak lain dapat mempercepat keberhasilan dalam membangun ekonomi yang lebih baik, namun semuanya tidak lepas dari Motivasi, kemauan dan kerja keras. Karena dengan motivasi, Kemauan dan kerja keras diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan ekonomi dan hal ini juga merupakan faktor penentu yang sangat penting. Dari sini juga akan muncul insiatif –insiatif baru serta semangat untuk selalu menggali potensi dan peluang serta pengetahuan baru yang lebih baik dan inovatif.
Berkelompok dalam berusaha merupakan salah satu cara untuk mendorong motivasi kebersamaan dan lebih kuat dalam menyelesaikan satu masalah. Tapi jika berkelompok terkesan dipaksakan, justru akan terjadi sebaliknya. Berkelompok bisa saja akan menjadi penghambat dalam penyelesaian masalah yang lebih besar, jika kegiatan berkelompok hanya difokuskan melulu pada penyelesaian konfik internal kelompok maka dapat dipastikan tujuan dan rencana kerja yang sudah disusun dan dirancang secara matang oleh kelompok akan terbengkalai dan yang terjadi adalah menurunkan kriatifitas individu dalam kelompok, kelelahan dan kejenuhan anggota-anggota kelompok dalam berusaha untuk maju serta motivasi akan semakin rendah dalam menyikapi permasalah-permasalah yang di hadapi. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Perjuangan Hidup Masyarakat Local Dan Keberpihakan Pemerintah |
|
Friday, 06 February 2009 |
|
Dari perjalanan tim pelaksana proyek melakukan dialog informal dengan Dinas Kehutanan MUBA dan juga dengan aparat pemerintah desa yang ada di sekitar hutan serta dari hasil pengamatan lapangan, maka ter-inpirasi oleh kami untuk mengangkat cerita “Perjuangan masyarakat dan kurangnya keberpihakan Pemerintah didalam memerankan masyarakat local untuk pengelolaan hutan” Foto 1 : Kegiatan pertemuan secara formal dengan pihak Pemkab MUBA Foto 2 : Aktifitas Perusahaan HTI di kawasan HRGMK dalam pemanfaatan kayu hutan Foto 3 : salah satu kegiatan pertemuan kelompok masyarakat sebagai proses pendampingan masyarakat local oleh WBH |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Hutan Rawa Gambut Merang – Kepayang (HRGMK), dulu dan sekarang? |
|
Friday, 06 February 2009 |
|
 Hutan Rawa Gambut Merang-Kepayang (HRGMK), secara administrasi desa berada didalam pengawasan desa Muara Merang dan desa Kepayang kecamatan Bayung Lencir kabupaten Musi Banyuasin. Kedua desa ini merupakan desa terdekat dan ber-akses langsung dengan kawasan, sehingga menjadikannya sebagai target yang akan dilakukan kajian (disebut: studi) oleh Yayasan WBH dengan dukungan dari Sustainable Sumatera Support (SSS) didalam peluang penerapan model Community Base Forest Management (CBFM) oleh masyarakat lokal terhadap kawasan tersebut. Pada tahap awal pelaksanaan proyek di bulan Desember 2008, telah dilakukan kajian Sosial-Ekonomi terhadap masyarakat di dua desa dan Karakteristik Kawasan HRGMK. Dari pelaksanaan kegiatan di lapangan, tim kajian telah menghimpun cerita menarik yang digali dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat dan perwakilan pemerintahan desa tentang Hutan dan sistem pengelolaannya dulu dan sekarang. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Profil Umum Lokasi Kunjungan Peserta Workshop Bioright |
|
Wednesday, 17 September 2008 |
|
Profil Umum Lokasi Kunjungan Peserta Workshop Bioright Wetlands and Poverty Reduction Project (WPRP), Provinsi Sumatera Selatan - Profil Umum Ekosistem
Provinsi Sumatera Selatan memiliki luasan lahan gambut terluas kedua setelah provinsi Riau, yang mana luasan lahan gambut yang ada di Sumatera Selatan 1.420.042 ha (19,71% dari luasan lahan gambut yang ada di Pulau Sumatera). Keberadaan lahan gambut yang ada di Sumatera Selatan tersebut menyebar di beberapa kabupaten, dan kabupaten yang memiliki lahan gambut terluas adalah kabupaten Ogan Komering Ilir sejumlah 768.501 ha, terluas kedua adalah kabupaten Musi Banyuasin sejumlah 593.311 ha, dan selebihnya menyebar di beberapa kabupaten lainnya.  Berdasarkan beberapa kajian dari Wetlands International – Indonesia Program (WIIP) & Yayasan Wahana Bumi Hijau (YWBH), keberadaan lahan gambut yang ada di Sumatera Selatan ini sudah mengalami degradasi yang cukup tinggi, bahkan sudah banyak yang dikonversi menjadi lahan perkebunan Sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dan pada kajian ini, juga menyebutkan bahwa dari luasan lahan gambut yang ada di Sumatera Selatan tersebut hanya tertinggal ± 200.000 ha yang masih berhutan alami, yaitu lahan gambut yang ada di kawasan sungai Merang dan sungai Kepayang Kecamatan Bayung Lencir kabupaten Musi Banyuasin. Sehingga dapat di sebutkan bahwa, kawasan hutan gambut yang ada di sekitar Sungai Merang dan Sungai Kepayang yang selanjutnya disebut Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK), merupakan satu-satunya kawasan hutan rawa gambut alami terakhir di Sumatera Selatan.  Dari beberapa kajian tentang karakteristik gambut di kawasan HRGMK ini, menyebutkan bahwa ketebalan tanah gambutnya cukup bervariasi mulai dari 0,5 meter sampai 6 meter, begitu juga dengan kondisi tegakan vegetasinya yang relative masih berhutan alam dan juga memiliki nilai keanekaragaman fauna yang masih tinggi dan dilindungi. Disamping itu, kawasan HRGMK ini juga memiliki tekanan yang cukup besar dari berbagai aktivitas manusia, misalnya seperti masih banyaknya masyarakat yang melakukan penebangan liar (illegal logging), konversi lahan manjadi perkebunan Sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) serta kebakaran hutan. Dengan kondisinya demikian, maka sangat perlu dilakukan upaya-upaya perlindungan dan konservasi kawasan HRGMK yang berbasiskan masyarakat lokal. Oleh karena itu, program Wetlands and Poverty Reduction Project (WPRP) yang ada di Sumatera Selatan di laksanakan di ekosistem HRGMK tersebut. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Secercah Harapan Di Tanah Tinggi |
|
Saturday, 26 April 2008 |
|
Cuaca panas ditengah teriknya matahari yang tepat berada diatas kepala tidak mengurungkan niat Implementator untuk terus memonitoring atau sekedar mengunjungi kelompok-kelompok tani di Desa Muara Merang pada siang itu. Bulan Maret seharusnya cuaca masih lembab atau hujan, namun hari itu sinar matahari sudah muncul sejak pagi tanpa sedikitpun awan gelap membayangi seperti hari biasanya. Sepertinya bumi sedang menunjukkan kepada manusia bahwa dia punya kuasa atas manusia bukan manusia atas dirinya. Lahan Perkebunan Kacang Kedelai di Tanah Tinggi
Setelah menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan atau mungkin tiba-tiba saja diperlukan saat diperjalanan, implementator mulai melakukan perjalanan ke lokasi-lokasi yang telah di datanya sejak keberangkatan dari Palembang. Berbekalkan sebuah sepeda motor bebek sambil membonceng salah seorang pendamping lokal, keduanya menuju ke lahan perkebunan kacang kedelai Kelompok Hijau Lestari yang berada di selatan desa. Lahan yang terhampar seluas 10 ha yang baru sebagian di garap ini bersebelahan dengan lahan perkebunan kelapa sawit PT. Pinang Wit Mas (PT. PWS). lokasinyapun sebenarnya berada tidak jauh dari areal tempat tinggal masing-masing anggota kelompok. Selain mudah dijangkau karena hanya melalui jalur darat, perkebunan kedelai ini dipastikan tidak akan terlalu banyak gangguan dari hewan penggangu (red: babi) seperti kebun-kebun anggota kelompok lainnya. Karena letaknya yang strategis ini diharapkan akan memudahkan para anggota kelompok dalam memantau dan melakukan pemeliharaan terhadap kebun dan tanaman-tanaman yang mereka tanam. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Kisah di Balik Kunjungan ke Kanal-Kanal Liar di Kawasan HRGMK |
|
Thursday, 03 April 2008 |
|
  pemandangan sepanjang perjalanan team menyusuri Sungai Merang (foto . A. Fadilan) Setelah hampir satu semester tidak ada khabar mengenai perkembangan kanal-kanal liar yang berada di kawasan Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK), pada akhir Maret 2008 lalu, Implementator bersama rekan-rekannya bersama dengan beberapa penduduk local kembali memantau lokasi di beberapa kanal yang sudah di tebat (red:block). Yaitu Kanal Perjanjian dan Kanal Penyamakan. Kegiatan kunjungan ke lokasi kanal-kanal tersebut dalam rangka mendampingi salah seorang Mahasiswa S2 yang akan mengadakan penelitian (study) mengenai dampak keberadaan kanal sebelum dan sesudah dilakukan penebatan terhadap hutan rawa gambut. Berikut kisah dibalik perjalanan team menuju lokasi kanal.   Kondisi tebat permanent dan permukaan air di sekitar tebat (foto: Adi & IL) |
|
Baca selengkapnya...
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
| | Results 10 - 18 of 25 |
|
|
|
|
|
Sedang OnlineAda 10 tamu online
|